STREAMING TEMAN RADIO

RADIO TEMAN FM

Minggu, 27 November 2011

Bogor Kota Petir, 3 Jam 9153 Sambaran Petir

Dari catatan Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor, hingga Jum'at 18 Nopember 2011 kemarin, terjadi 9.153 kali sambaran petir dalam waktu tiga jam. Alat pencatat petir (Lightning Counter) yang dipasang di Kelurahan Situgede.

Petir yang terjadi pukul 11:00 hingga 14:25 menyambar Kota Hujan hingga 9.153 kali. Itu berarti dalam satu menit terjadi 45 kali sambaran petir, dengan asumsi 9.153 dibagi 205 menit.
”Jumlah petir hari ini (kemarin, red) luar biasa dan masuk kategori rekor dunia.

Tidak hanya petir dengan jumlah yang fantastis, frekuensi guntur yang mencapai 15.217 dengan kecepatan angin 22 knot juga terjadi di Bogor,” ungkap Kepala Seksi Data dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Dramaga, Kabupaten Bogor, Henry Antoro.

Puncak posisi awan commulunimbus atau awan CB berada pada sebelah barat daya Kota Bogor. Cuaca ekstrem belakangan ini yang terjadi di wilayah Bogor karena ada thunder storm atau badai guntur. Dan cuaca ini diperkirakan terjadi hingga akhir November ini.
Jika ada petir, masyarakat Bogor dilarang menelepon. Karena, petir bisa mengincar logam ponsel. Tak hanya itu, ia mengimbau agar masyarakat Bogor mencari tempat berteduh yang aman dari petir.

“Hindari berteduh di bawah pohon. Apalagi, pohon tertinggi di antara pohon di sekitarnya. Karena, berpotensi tersambar petir dan tumbang. Petir kan elektromagnetik,” tegasnya.


Bantuan Alat Pendeteksi Petir

Selasa, 25 Oktober 2011 yang lalu, Stasiun Klimatologi Dramaga mendapat bantuan dari pemerintah pusat berupa alat lightning detector (pendeteksi petir). Sejak itulah, intensitas petir wilayah Bogor dapat diketahui.

Intensitas hujan disertai petir di wilayah Bogor cukup tinggi mendorong pemerintah pusat memberikan bantuan kepada stasiun Klimatologi Dramaga, berupa lightning detector. Alat pengukur frekuensi petir ini menjadi satu-satunya alat yang bisa mengetahui lokasi petir menyambar.

Untuk mengoperasikannya, alat baru ini dipasang di tembok gedung pemantau petir. Lalu terdapat software yang menghubungkan dengan komputer.
Sebelum memiliki alat pendeteksi petir, Stasiun Klimatologi Dramaga hanya memiliki lightning counter. Kedua alat canggih ini jelas berbeda fungsinya.

Alat ini menangkap sinar kilat petir serta suara gemuruh petir, karena terbilang baru, pihaknya belum bisa menganalisa hal tersebut. Minimal lima tahun lah. Kita bisa analisa, di mana saja tempat yang sering terdapat petir.

Cakupan alat ini pun cukup luas. Setidaknya hingga mencapai radius 250 kilometer dari titik yang dipasang. Jika Stasiun Klimatologi Dramaga telah menganalisa nantinya, pihaknya pun segera menginformasikan kepada masyarakat. Sehingga, daerah yang rawan petir bisa mengetahui. (als)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar